sejarah penginapan kuno atau inn
peran alkohol dan keamanan bagi pelancong zaman dulu
Pernahkah kita membayangkan rasanya traveling di zaman kuno? Mari lupakan sejenak tiket pesawat promo atau kenyamanan memesan penginapan dari layar ponsel. Di masa lalu, bepergian adalah sebuah misi bertahan hidup. Bayangkan kita harus berjalan kaki atau naik kuda berhari-hari melintasi hutan gelap, pegunungan terjal, dan jalanan antah-berantah. Gelap, dingin, dan sangat sepi. Lalu, di kejauhan, kita melihat cahaya api yang temaram dan mendengar sayup-sayup suara tawa. Itulah inn atau penginapan kuno. Tempat ini bukan sekadar bangunan bata atau kayu. Bagi pelancong masa lalu, bangunan sederhana itu adalah batas tipis antara hidup dan mati.
Saya sering berpikir, apa yang sebenarnya dicari oleh nenek moyang kita saat melangkah masuk ke penginapan tersebut? Secara psikologis, manusia prasejarah hingga era abad pertengahan memiliki sistem kewaspadaan yang selalu aktif. Otak mereka terus memproduksi hormon stres seperti kortisol saat berada di jalanan terbuka. Ancaman perampok, cuaca ekstrem, atau hewan buas membuat mode fight or flight kita menyala tanpa henti. Berada di jalanan berarti menantang maut. Oleh karena itu, penginapan kuno muncul bukan sebagai fasilitas mewah, melainkan sebagai kapsul keamanan. Dinding yang tebal, perapian yang menyala, dan kehadiran manusia lain memberikan sinyal pertolongan pertama pada otak purba kita: kita aman di sini. Rasa aman kolektif inilah yang menjadi fondasi awal industri keramahtamahan atau hospitality. Namun, jika kita perhatikan lebih dekat, ada sebuah kebiasaan konsumsi yang sangat unik di dalam dinding-dinding penginapan ini.
Jika kita bisa memutar waktu dan duduk di salah satu meja kayu kusam di penginapan Romawi kuno atau kedai abad pertengahan, kita akan menyadari satu hal yang janggal. Hampir tidak ada yang meminum air putih. Semua pelancong, baik bangsawan yang menyamar maupun pedagang kain biasa, menenggak bir, ale, atau anggur dalam jumlah yang terlihat tidak masuk akal untuk ukuran kesehatan zaman sekarang. Mengapa mereka melakukan itu? Apakah pelancong zaman dulu hanyalah sekumpulan orang yang gemar bermabuk-mabukan demi melupakan lelahnya perjalanan? Ataukah ada rahasia lain yang lebih gelap, sesuatu yang berkaitan dengan mikrobiologi, taktik bertahan hidup, dan cara otak kita terprogram untuk berinteraksi dengan orang asing yang berpotensi membunuh kita?
Ternyata, sains punya jawaban yang sangat memukau. Di masa lalu, air putih adalah salah satu pembunuh paling efektif bagi manusia. Sumber air di dekat pemukiman sering kali tertular patogen mematikan seperti bakteri kolera atau disentri. Teman-teman, pada titik krisis inilah alkohol memainkan peran penyelamat nyawa. Proses fermentasi dalam pembuatan bir atau wine secara alami membunuh bakteri berbahaya. Minuman beralkohol jauh lebih higienis daripada air sungai atau sumur mana pun. Ini adalah fakta bertahan hidup berbasis mikrobiologi yang diadopsi nenek moyang kita, jauh berabad-abad sebelum mereka mengerti tentang eksistensi kuman.
Namun, bukan hanya soal hidrasi yang aman. Secara psikologis dan neurobiologis, mengonsumsi alkohol bersama orang asing memicu pelepasan dopamine (hormon kepuasan) dan oxytocin (hormon ikatan sosial) di otak. Hormon-hormon ini bekerja menurunkan ketakutan dan paranoia. Bayangkan, puluhan pria bersenjata dari berbagai suku dan negara berkumpul di satu ruangan sempit yang sama. Tanpa pelumas sosial berupa alkohol, tingkat kecurigaan di ruangan itu bisa dengan mudah memicu pertumpahan darah. Alkohol di penginapan kuno meruntuhkan tembok pertahanan tersebut. Zat ini mengubah sekelompok orang asing yang tegang menjadi kawan bernyanyi, setidaknya untuk satu malam yang panjang.
Ketika kita membedah sejarah penginapan kuno melalui lensa sains, kita belajar banyak tentang siapa kita sebenarnya. Kita adalah makhluk yang secara fisik cukup rapuh, sangat membutuhkan pelindung dari kejamnya alam liar. Namun lebih dari itu, kita adalah makhluk sosial yang selalu mencari cara untuk saling percaya, bahkan di tengah dunia yang penuh ancaman. Penginapan, perapian hangat, dan minuman fermentasi adalah cara cerdas leluhur kita meretas biologi dan psikologi mereka sendiri demi menciptakan kebersamaan. Jadi, saat kelak teman-teman duduk bersantai di lobi hotel yang nyaman atau sekadar mengangkat gelas bersama sahabat di akhir pekan, mari ingat kembali perjalanan panjang ini. Tanpa sadar, kita sedang merayakan hal yang sama dengan para pelancong ribuan tahun lalu: rasa aman, kehangatan, dan kelegaan karena kita tidak sendirian.